Dua Lahan Ini Disiapkan untuk Korban Likuifaksi Sulteng

JANGAN LUPA SHALAT..!!

JawaPos.com – Korban gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) disertai tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah akan direlokasi ke beberapa tempat. Mereka adalah warga yang sebelumnya tinggal di tiga lokasi terdampak amblasan serta likuifaksi, yakni Balaroa, Petobo, dan Jono Oge.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, lokasi hunian tetap (huntap) disiapkan oleh pemerintah daerah setempat. Lahan harus dikaji pihak terkait untuk memastikan tidak berbahaya ketika ada bencana serupa.

“Lokasi huntap masih dikaji oleh Kementerian ESDM. Lokasi di Duyu untuk korban dari Perumnas Balaroa dan lahan di Ngata Baru untuk korban di Petobo,” ujarnya saat menggelar konferensi pers di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (11/10).

Ada sejumlah kriteria dalam pemilihan lokasi untuk relokasi warga. Antara lain adalah bebas dari ancaman bahaya baik patahan aktif, likuifaksi, longsor, tsunami, banjir, dan mikrozonasi tinggi gempa bumi.

Lahan tersebut juga tidak berbatasan dengan pantai dan sungai, tidak berada di kawasan lindung atau kawasan lain dengan kemiringan lebih dari 15 persen. Selain itu lahan juga harus memiliki akses yang cukup baik ke sumber air, serta penguasaan tanah Hak Guna Usaha (HGU) atau Hak Guna Bangunan (HGB) telah habis.

“Lahan ini adalah lahan yang selama ini tidak digunakan atau lahan HGB yang ditidurkan,” kata Sutopo.

Dia menambahkan, akan meminta Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) agar mengeluarkan kebijakan lahan dapat dimanfaatkan untuk relokasi.

Selama huntap dibangun 1-2 tahun, masyarakat akan dipindahkan ke hunian sementara (huntara). Rencananya Huntara ini mulai dibangun awal November saat masa transisi darurat menuju pemulihan. Namun, waktu pembangunan dan jumlah huntap sendiri masih dikaji.

Sutopo menegaskan, tidak semua korban bencana akan direlokasi. Sebab, ada pengungsi di luar warga Balaroa, Petobo, dan Jono Oge yang bisa kembali ke rumahnya setelah direhabilitasi.

“Ada juga yang tidak direlokasi tapi rumahnya hancur. Mereka akan membangun hunian tetap di tapak mereka semula. Tentu rumah-rumah yang dibangun konstruksinya harus tahan gempa,” tutur dia.

Sebagai informasi, data BNPB menunjukkan angka pengungsi akibat bencana tersebut kini mencapai 87.725 orang. Sebanyak 67.310 unit rumah rusak, terdiri dari 65.733 unit di Kota Palu, 897 unit di Sigi, dan 680 unit di Donggala.

(yes/JPC)

Jawa Post




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *