Unik, Sulit, dan Serunya Nomor Baru Cabang Para Atletik Ini

JANGAN LUPA SHALAT..!!

JawaPos.com – Estafet 4×100 meter T11-13, T35-38, T42-47, dan T33-34/51-54 merupakan salah satu nomor atletik yang baru pertama kalinya dipertandingkan dalam Asian Para Games. Nomor tersebut terbilang unik karena menggabungkan atlet penyandang disabilitas yang berbeda dalam satu pertandingan.

Laga yang digelar Jumat (12/10) malam kemarin itu mempertandingkan empat kategori penyandang disabilitas berbeda. T11-13 merupakan atlet yang memiliki kekurangan dalam penglihatannya, T35-38 bagi atlet yang memiliki gangguan saraf di tubuhnya, T42-47 untuk gangguan otot, dan T33-34/51-54 untuk para penyandang disabilitas yang harus menggunakan kursi roda.

Penggabungan tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi empat atlet dalam nomor itu. Mereka harus memiliki koordinasi yang tepat agar masing-masing atlet dapat bersinergi, sebab estafet merupakan perlombaan yang membutuhkan kerjasama tim.

Hal tersebut yang turut dirasakan oleh tim Indonesia yang turun dalam nomor itu. Tim yang terdiri dari Putri Aulia, Karisma Evi Tiarani, Sapto Yogo Purnomo, dan Jaenal Arifin pun mengaku memiliki kesulitan tersendiri dalam berkompetisi di nomor tersebut. Terlebih lagi ini pertama kalinya bagi mereka mengikuti perlombaan estafet.

“Kesulitannya di pelari kedua ya. Soalnya kan aku cepat, sementara Evi memiliki kekurangan di kaki. Kalau aku cepat, dia tidak bisa mengejar aku. Jadi aku pakai feeling harus lambat atau sedang,” ucap Sapto.

Kompetisi ini pun makin terasa sulit karena tim yang dibuat sangat mendadak. Tercatat, tim estafet ini baru dibentuk dua jam sebelum pertandingan berlangsung. Alhasil mereka hanya memiliki waktu persiapan yang sedikit.

“Tim ini baru dibentuk jam setengah enam sore. Terus kami langsung latihan,” ujar Sapto.

Sebetulnya, tim estafet ini sudah pernah melakukan latihan di pelatnas Solo. Hanya saja saat itu posisi Evi diisi oleh Nanda Mei Sholihah. Namun, karena Nanda dia mengalami cedera, Evi pun harus mengisi posisinya. Akibatnya, mereka harus berlatih dari awal lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu atlet Jepang yang berlaga di nomor itu, Sato Keika. Dia mengaku hanya melakukan persiapan dalam waktu yang sebentar bersama ketiga teman-temannya.

“Kami baru dibentuk dan latihan selama lima hari saat training camp di Wakayama. Kami memang memiliki disabilitas yang berbeda, tapi akhirnya kami dapat tampil bersama,” ujar Sato.

Meski sulit, cabang baru di dunia para atletik ini juga sukses menjadi daya tarik sendiri. Tergabungnya empat atlet yang menyandang disabilitas berbeda membuat olahraga ini semakin unik dan seru untuk disaksikan.

Baik Indonesia maupun Jepang berhasil meraih medali di cabang tersebut. Indonesia meraih medali perunggu dengan total catatan waktu 50.09 detik. Sementara Jepang berhasil meraih perak dengan total waktu 49.04 detik. Sedangkan medali emas berhasil diraih Tiongkok dengan catatan waktu 47.89 detik

(mat/JPC)

Jawa Post




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *